Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Lomba Penulisan Novel Amore

Lomba Penulisan Novel Amore

Amore: Let's Fall in Love!

Ingin menjadi penulis Gramedia Pustaka Utama? Ini kesempatan karyamu diterbitkan dengan mengikuti Lomba Penulisan Novel AMORE. Amore adalah novel dewasa yang menampilkan kisah roman dalam negeri. Ditulis oleh pengarang Indonesia, menampilkan kisah cinta yang menggugah hati.

Ketentuan Lomba:
1. Lomba terbuka untuk semua warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas.
2. Tema cerita bebas, harus berkaitan dengan kisah cinta, tidak mengandung SARA dan pornografi.
3. Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan atau saduran.
4. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
5. Panjang Naskah 150-250 halaman A4, 1,5 spasi, 12 pt, font Times New Roman. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
6. Kirimkan naskah (print out), sinopsis cerita, biodata berikut nomor kontak yang bisa dihubungi & foto berwarna, serta fotokopi tanda pengenal peserta (KTP/identitas lain)

ke:

Panitia AMORE!

Redaksi Fiksi PT Gramedia Pustaka Utama
Jln. Palmerah Barat 29-37 Lt. 5, Jakarta 10270
Telp. (021) 53650110 ext. 3511, 3512

-- Cantumkan "Lomba Novel Amore" di pojok kiri atas amplop --

7. Seluruh naskah yang masuk menjadi milik panitia lomba
8. Naskah kami tunggu selambat-lambatnya 1 Desember 2012

MENANGKAN HADIAH SEBAGAI BERIKUT:
Juara I      Rp 7.500.000,00 + Trofi + sertifikat + paket hadiah dari sponsor
Juara II     Rp 5.000.000,00 + Trofi + sertifikat + paket hadiah dari sponsor
Juara III    Rp 3.000.000,00 + Trofi + sertifikat + paket hadiah dari sponsor
Pemenang Berbakat (3 orang)  Rp1.500.000,00 + Trofi + sertifikat + paket hadiah dari sponsor

Bagi Juara dan Pemenang Berbakat, novelmu juga akan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.

*) Hadiah belum termasuk royalti jika diterbitkan.

ontoh-contoh novel amore yang sudah diterbitkan : http://gramediapustakautama.com/buku/tag/Amore

Informasi : http://www.gramediapustakautama.com/acara-detail/137/Lomba-Penulisan-Novel-Amore

MEETS UR IDOL GOES to KOREA Chapter 2

MEETS UR IDOL GOES to KOREA Chapter 1
*******


 

 

CHAPTER 2

Adzan maghrib pun terdengar sayup – sayup di luar jendela kamar ira. Bergegas ia menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Lalu ia mengenakan mukena dan mulai melafadzkan          “allahu akbar” ira pun memulai shalatnya.

Di sela – sela doanya ia selalu memanjatkan doa untuk kesehatan ibunya, karena satu – satunya harta paling berharga yang ia punya hanyalah ibunda nya. Tidak ada apapun yang paling berharga baginya selain ibu yang telah melahirkannya itu.

Setelah shalat ira menuju ruang tamu sekaligus ruang tv dan ruang makan yang berukuran kecil. Maklumlah rumahnya memang sangat sederhana sekali. Ini adalah rumah dimana ibunya dan dirinya dilahirkan dan dibesarkan. Maka dari itu sulit baginya untuk meninggalakan rumah mungilnya itu. Pernah ada suatu kejadian pada saat ira sedang mengikuti acara kemah disekolahnya saat sekolah dasar, saking rindunya ia dengan kamar di rumahnya itu, ira hanya mampu bertahan 1 malam saja. Lalu keesokan harinya ia langsung pulang dan keluar dari acara kemahnya tersebut.

Dinyalakannya televisi berukuran 14’’ di rumah nya itu. Lumayanlah untuk sekedar hiburan melapas penat dengan kehidupan sehari – hari yang terasa sulit. Maka televisi ini adalah hiburan baginya dan ibunya. Apalagi sang ibu sangat menyukai sinetron kejar tayang yang selalu hadir setiap malamnya.

Di ambilnya remot lalu ira memindahkan saluran televisi dari chanel ke chanel.

“hm, ini acara ga ada apa yang bagusan dikit. Perasaan setiap ganti chanel tayangannya sinetron mulu.” Ucap ira yang sedang memegang remot dan berbaring di kursi tua yang reyot, kusam, dan robek disana – sini. Maklumlah ira sangat tidak menyukai sinetron apalagi sinetron yang sering dilihat ibunya, ira paling anti sekali.

Ira masih mengganti chanel saluran televisinya, dan ketika ia klik lalu ada berita seputar...

“kabar berita seputar k-pop. Para k-poppers mungkin sudah tidak asing lagi dengan artis yang satu ini.” Ucap sang presenter pria di salah satu stasiun swasta tayangan acara “STAR LIGHT” acara ini membahas seputar selebritas korea, dan seluk – beluk korea, pokoknya all about korea.

“oh iya siapa tuh...” ucap presenter  wanita yang berada di sampingnya. Acara “STAR LIGHT” ini di presenteri oleh satu orang cowok ganteng bernama Vicky dan cewek cantik bernama Carla. Khusus di acara ini mereka tampil duet setiap malam selama satu jam dengan pakaian, gaya dan cara bicara menirukan artis korea yang unyu – unyu giamana gitu.

“Lho jadi Carla belom tahu? cowok ini tuh lagi di gembar – gemborin  mau tour ke asia tenggara untuk mempromosikin salah satu situs resmi di negaranya.” Jawab Vicky

“oh yang ada kuisnya itu bukan oppa Vicky?” tanya Carla dengan sebutan oppa untuk Vicky. oppa itu yang berarti (kakak untuk laki – laki).

“yup, bener banget kuis nya itu akan mempertemukan idola dengan sang fans, dimana sang fans yang memenangkan kuis itu akan diberangkatkan ke korea selama 10 hari dan tinggal bersama sang idola, gimana tuh kamu berminat ga carla?” tanya Vicky pada Carla.

“berminat banget , ngomong – ngomong siapa sih artisnya?” ucap Carla pura – pura tidak tahu dengan nada sedikit penasaran.

“dia adalah Lee Suun Kee, arktor tampan yang sekaligus penyanyi dan jago ngedance ini  yang nantinya akan ditemui oleh para fans yang beruntung itu.” Ucap Vicky seraya menirukan gaya dari Lee Suun Kee.

“wow caranya?” ucap Carla menghampiri Vicky.

“gampang banget, kalian para pecinta k-pop dan yang ngefans banget wajib buka situs WWW.IDOLSKOREA.COM nah ikutin tuh petunjuknya, kalian bisa mendaftarkan diri selama satu bulan sebelum penutupan, dan pengumumannya akan di tentukan tiga bulan mendatang. Gimana???” ucap Vicky yang menjelasakan tentang situs idols korea secara detail.

Carla mengangguk – anggukan kepala dan berlari ke arah meja di samping kanannya untuk membuka laptop.

“lho...lho... nah lihat kan para k-poppers Carla aja langsung berminat, nah apa lagi kamu - kamu yang suka banget sama Lee Suun Kee, jangan kalah sama Carla ya... untuk menyemangati kamu – kamu  K-poppers punya lagu “Love Song” milik Lee Suun Kee. Chek it out.” Ucap Vicky menutup sesi acara dengan video klip “Love Song” milik Lee Suun Kee.

Setiap mendengar lagu ini ira pasti mengeraskan volume televisinya ya walaupun sudah agak terdengar kerasak – keresek maklumlah televisinya ini sudah ada jaman ibunya masih kanak – kanak dulu. Jadi jangan di tanya pasti sudah jadul abis hahaha....

LOVE SONG...............

Setelah hampir selesai mendengarkan lagu dari artis favoritnya itu ia bergegas ke kamarya lalu membuka laci diatas lemari pakainnya, diambilnya sebuah foto berukuran 3R yang sudah terlihat kusam dan pudar warnya itu. Terlihat di dalam foto itu ada ira yang masih berusia 7 tahun bersama kedua orang tuanya yang terlihat sangat harmonis dan tampak ceria. Tidak ada duka sama sekali yang terlihat dari raut wajah nya kala itu. Berbeda dengan hari ini, dan hari saat ayahnya pergi meninggalkannya. Ira sangat merindukan sosok sang ayah, ayah yang pergi dan tak kembali. Yang selalu menyanyikan nyanyian cinta saat ia akan beranjak di lelapnya malam.

Semua yang kini tersisa hanya ingatan dalam selembar photo yang ia gengam, tak terasa air matanya pun berjatuhan. Ira paling tidak bisa untuk menahan air matanya jika ia teringat akan ayahnya. Entah dimana ayahnya saat ini. Apakah ia masih dalam perjalanannya di lautan dengan kapal pesiar itu? Apa iya yang orang – orang selalu bicarakan kapalnya karam, entah lah ira hanya berdoa agar ayahnya selalu dalam perlindungan-Nya.

Lalu beberapa saat ibunya memanggilnya dari luar kamar.

“ndo, sudah shalat isya?”

Mendengar panggilan sang ibu, ira pun menjawab “iya bu, ini ira lagi mau siap – siap”. Ira dengan cepat memasukkan foto itu kembali ketempatnya dan berlari ke kamar mandi. Takut kalau – kalau ibunya melihatnya sudah menangis.

Sekembalinya dari kamar mandi ia pun langsung mengenakan mukena dan melaksanakan kewajibannya untuk shalat isya.

Seusainnya shalat, seperti biasa ia akan pergi ke warnet di depan gang rumahnya. Tapi kali ini ia tidak sendiri, kebetulan ketika ira sedang menunaikan shalat Riksan datang ke rumahnya. Dan berniat bertandang untuk membicarakan suatu hal yang penting. Dan ira mengajak Riksan untuk pergi bersamanya ke warnet.

Sesampainya di depan gang. Riksan menarik tangan Ira dari belakang untuk menghentikan langkah kaki ira yang sedang berjalan di depannya saat itu.

“ke kenapa???” tanya ira bingung karena lengannya di tarik.

“gue mau ada sesuatu hal yang penting banget.” Ucap Riksan memberitahu.

“ya gue tau, ini kita lagi jalan ke warnet.” Ucap ira santai

“ini tuh secret banget, gimana kalau kita bicarainnya di dalem mobil.” Ucap Riksan yang terlihat resah.

“dalem mobil? Mobil angkot maksud lo?” ucap ira sambil melihat kanan kiri ke arah jalan, kalau – kalau ada angkot.

“iiih... dasar dong – dong mobil gue lah. Noh gue parkirin di sebrang.” Tanpa panjang lebar Riksan pun menarik tangan Ira dan mengajaknya berlari ke seberang jalan menuju ke dalam mobil bmw warna merah nya yang ber plat B   1   KSN.

Sesampainya dalam mobil. Ira duduk di samping kursi pengemudi dimana Riksan duduk disana.

“ada apa sih... urgent (darurat) banget kaya mau lahiran tau gag lo” ucap ira dengan nada sedikit kesal campur penasaran ditambah pusing. Gimana nggak? Tumben – tumbennya ini anak dateng ke rumah ira malem – malem begini.

“Ra, gue mau lo jadi pacar gue.”

Ahhhhh......

Ira langsung melongo tak percaya kaget setengah pinsan ketika ia dengar kata – kata Riksan. Yang aneh adalah Riksan ia pun tak kalah melongonya dengan mulut terbuka... oops...Riksan pun membekap mulut nya dengan tangan kanan dan tangan kirinya melambai bertanda ‘bukan – bukan, yang tadi tuh gue salah ngomong’.

“eh, bukan Ra maksud gue lo jadi pacar boong – boongannya gue mau kan?” ucap riksan meluruskan pembicaraanya dan menghentikan kegugupannya karena kesalahan bicara.

Ira yang masih melongo, akhirnya tersadar, tapi pipinya malah menjadi merah seperti udang rebus yang saking matengnya jadi kegosongan hahaha....

“apa sih gue ga ngerti aahhh...” ucap Ira menggaruk – garukan kepalanya.

Lau Riksan pun menjelaskan tujuan urgent nya pada Ira. Bahwa dirinya akan dijodohkan kepada putri dari rekan kerja papanya di perusahaan. Namun Riksan tidak mau menyetujui keinginan papanya itu, begitupun dengan mamanya Riksan yang menolak anak lelakinya yang masih pelajar dijodoh –jodohkan. Maka dari itu untuk membatalkannya Riksan yang dibantu mamanya ini berniat mencari seseorang untuk dijadika kekasih sewaan Riksan. Tidak kehabisan akal Riksan pun menemui Safira untuk melancarkan aksinya ini. Lalu Ira pun menyetujui aksi Riksan tapi ia ingin sebagai imbalannya Riksan harus membantunya agar ia bisa pergi ke KOREA untuk menemui Lee Suun Kee.


***


 

Selepas pulang sekolah tidak seperti biasanya, Ira kali ini tidak pergi ke warnet ataupun menjadi jockey 3 in 1 di jalanan. Khusus hari ini seperti yang dijanjikannya kepada Riksan semalam, ira akan pergi untuk menemui mamanya Riksan terlebih dulu sebelum bertemu dengan papanya Riksan. Ira tidak pergi bersama Riksan untuk menemui mamahnya itu. Ira pergi sendiri karena sudah ada mobil suruhan mamanya Riksan untuk menghantarkannya ke sebuah tempat dimana mamanya Riksan sudah menunggu kehadirannya.

Selang 10 menit mobilpun berhenti tepat didepan sebuah salon “BerrrySaloon” dengan papan mencolok warna – warni dan berbagai atribut seperti karnaval di depan salonnya.

Lalu Ira pun turun dari mobil lalu menuju ke arah pintu salon itu. Untuk memastikan apakah tempat ini yang di bilang oleh Riksan? Ira pun bertanya pada si sopir yang berada di samping mobil yang tadi menghantarkannya.

“hm... maaf pak. Eng... ini tempat yang...” belum selesai meneruskan perkataannya sang sopir pun langsung menjawab dan memotong dengan gaya bahasa suku madura.

“iya ta iye, cah ayu yang cantik ini sudah di tunggu sama ibu, ayo monggo kedalem ta iye”. Ucap si sopir bertubuh tambun dengan kumis ala tukang sate madura itu sambil menunjukan jari jempolnya bahwa memang benar ini adalah tempat yang dimaksud.

“ah iya..” senyum ira lalu melangkahkan kakinya dan masuk kedalam salontersebut.

“ndoro putri, ini ta iye cah ayu yang den Riksan bawa dari sekolahnya ta iye.” Ucap si sopir seraya memperkenalkan Ira kepada seorang wanita yang kisaran usianya 40 tahunan dengan wajah yang masih terlihat awet muda. Mengenakan  dress terusan berwarna merah yang dipadu padankan dengan blezer berwarna hitam blink – blik... dengan gaya rambut di bun (sanggul ala kore) kebelakang, warna rambut dark blonde, sangat cocok dengan wajahnya yang blasteran.

Dalam hati Irapun berkata. ‘ini emaknya si Riksan apa Kakaknya ya, muda banget, mana cantik, fashionable banget dah’. Geleng – geleng Ira takjub tak henti – hentinya kepada wanita yang sekarang berdiri dihadapannya.

“hello, cantik, kamu temennya Riksan yah”. Ucap wanita yang berdiri menyapa Ira dengan senyuman cantik.

Ira yang masih takjub melihat dari atas ke bawah begitu berulang – ulang, sampai tak mendengar sapaan yang bertuju kepadanya.

“lho, kamu kenapa, hello...hei”. ucap wanita itu kembali dan agak mengejutkan Ira.

Lalu Ira pun tersadar setelah 10 detik melongo memandangi wanita yang adalah mamanya Riksan.

“eeh... iya tante, aduh maaf ya tante abisnya saya terpesona sih soalnya tante caaaaantik..... baaanget”.  Ucap Ira yang dengan lebaynya memuji si tante.

“aduh, kamu ini bisa aja”. Ucap mama Riksan malu – malu namun sangat senang saat mendengar pujian dari Ira. Maklumlah mamanya Riksan tidak pernah mendapat pujian dari sang anak.

“nah sudah sadar toh cah ayu ini rupanya. Ya sudah kalu begitu kulo menunggu diluar saja permisi ndoro putri”. Ucap si sopir dan berlalu meninggalkan keduanya.

Mamanya Riksan tersenyum lalu menggandeng Ira melangkah menuju ke ruangan sebelah.

“oh iya kita belum kenalan ya, saya Helena Hadiwijaya, mamanya Riksan”. Ucapnya seraya memperkenalkan diri. “kalau nama kamu cantik?”. Tanyannya kemudian.

“Safira tante”. Ucap ira yang menyunggingkan senyuman terbaiknya, walupun gag manis – manis banget lah ha...ha...ha...

“ayo duduk sini”. Ucap mamanya Riksan kembali dan menyuruh Ira duduk di bangku salon yang sedang berada di ruangan Private Room salon jadi hanya ada mereka berdua.

Ruangan Private Salon ini sangat nyaman sekali seperti ruangan make-up artis saat didandani. Berderet meja rias dengan lampu – lampu yang sangat terang memancar, lalu ac, dan showcase disamping nya. Takut – takut kehausan pada saat didandani karena terlalu lama. Berbeda dengan salon – salon yang biasa ira kunjungi untuk praktek tugas sekolahnya, jangan ditanya yah, beda jauh banget lah, kalau di salon ira harga potong - cuci – blow masih ceban. Nah, kalau disini? Seratus ribu rupiah, nah gimana bobol gag tuh kantong. Buat kita – kita yang pas - pasan mending belok ke salon teh Nining aja lah murah meriah cuy ha...ha...ha...

Ira pun lalu mengikuti ucapan mamanya Riksan. Ira duduk di depan meja rias yang membuatnya sedikit silau, maklum lah baru pertama kali. Wajar ya kalau sedikit aga kamseupay gitu bahasa GA’OL nya ha...ha..ha...

Pintu ruangan terbuka ‘ceklek’

Ternyata Riksan yang masuk kedalam ruangan dengan membawakan kotak berukuran cukup besar berwarna putih.

“ini ma pesenan yang mama suruh bawa di butik. Lain kali jangan nyuruh – nyuruh Riksan kesan alagi ya”. Ucap riksan yang langsung memeberikan kotak itu ke mamanya dan merebahkan tubuhnya yang tinggi sofa yang berada di sudut ruangan.

“lho memangnya kenapa?” ucap mamanya heran lalu membuka isi kotak itu yang ternyata adalah sebuah gaun yang cantik berwarna soft pink dengan tali spageti dan pita di pinggang belakang berwarna senada.

“itu tuh bancinya amit – amit deh pake ngeliatin segala. Nih yang parah lagi pegang – pegang tangan Riksan. Aduh pokoknya amit – amit deh ma”. Ucapnya yang sangat kesal membayangkan kejadiannya di butik tadi.

Ira dan mamanya Riksan saling berpandangan lalu tertawa...

“serius kamu, ini gaunnya cantik banget lho, iyakan san? Gimana menurut kamu Ira? Kamu suka ga?” tanya mamanya Riksan kepada keduanya.

Irapun menganggukan kepalanya. Bertanda ia sangat menyukai gaun yang di perlihatkan kepadanya itu. Apalagi seumur – umur Ira memang belum pernah melihat apalagi sampai untuk memakai gaun sebagus, secantik, dan semahal ini. Mana mungkin!!!

 

***


 

Setelah menunggu sekitar satu setengah jam di luar akhirnya Riksan pun terperanga dengan hadirnya sosok cantik dibalik pintu yang telah lama tertutup itu. Ira keluar didampingi mamanya, mengenakan gaun yang tadi ia bawa. Ira kini tampil sanagat anggun berbeda dari yang biasanya. Tampilan riasannya pun membuat wajah asli ira yang sebetulnya imut ini tampak seperti para girlbands korea. Iksan tak henti – hentinya berdecak kagum dan matanya tidak berkedip sedetikpun. Luar biasa!!! Sedikit lebay tidak apa –apa ya ha...ha...ha...

Langsung Ira, riksan, beserta mamanya pergi meninggalkan salon menuju kekediaman Riksan untuk menemui sang papa yang sebentar lagi akan pulang. Dengan sigap sang sopir langsung meluncur ke lokasi.

Setelah berada dirumah, lalu ira pun di kenalkan oleh sang mama kepada papanya. Disini ira berperan sebagai “Stefani” anak dari seorang teman arisan mamanya yang kaya raya . lalu Pura – puranya Riksan tidak mengenali Ira. Agar sang papa percaya bahwa Riksan akan memilih salah satu pilihan antara papa atau mamanya. Dan maka dari itu untuk tidak dijodohkan Riksan dan mamanya pun merencanakan aksinya ini. Dan alahasil papanya riksan pun dapat dikelabui. Karena pada akhirnya Riksan memilih pilihan mamanya. Dan perjodohan yang diberikan dari papanya pun dibatalkan.

Hinga pukul sembilan malam acara perjodohan bohong – bohongan itu ira pun dihantarkan pulang oleh riksan. Ditengah perjalanan menuju pulang. Riksan tak henti – hentinya memandang ke arah Ira. Entah kenapa ada sesuat yang berbeda yang ternyata Riksan baru menyadarinya. Ternyata seorang Safira mempunyai kepribadian yang baik, ramah, senang membantu. Apalagi ketika saat ira berpura – pura sebagai Stefani  ternyata ira bisa juga untuk bersikap manis dan bertutur kata layaknya seorang gadis. Tapi ira ya tetapalah ira.

“woi napa lu kesambet udah nyampe ni”. Ucap ira menatap Riksan heran lalu membuka belt di pinggangnya.

Riksan pun tersadar. Ya ira tetaplah ira mau sedang pakai gaun dan seanggun apapun pakaian yang dikenakannya tetap saja kata – katanya seperti barusan. Dalam hatipun berkata     ‘hah, ni anak baru aja dikagumin lima detik, udah kembali kehabitatnya, hehehe, tapi ga apa – apa ko gue suka’ Riksan pun cengar – cengir sendiri.

Lalu ira pun turun dari mobil dan berkata.

“makasih ya uda ngenterin gue, o iya bilang ama nyokap lo tadi makanannya enak banget. O iya lupa ini bajunya gimana?” tanya ira dari luar mobil.

“iya sama – sama. Iya gue sampein. Soal baju kayanya itu buat lo aja deh, lagian nyokap gue ga punya anak cewek. Kalo gue yang pake juga ga mungkin kan hehehe... ya uda bye...” ucap Riksan dalam mobilnya dan melambaikan tangan. Di tancapnya gas, mobil riksan pun melaju.

Ira berjalan ke gang menuju arah rumahnya. Kediaman rumah ira memang padat penduduk, maka dari itu Riksan tidak mungkin menghantarkan Ira tepat didepan rumah karena gang rumah Ira yang sangat sempit tidak memungkinkan mobil untuk dapat masuk.

Ira membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Dilihatnya sang ibu sudah tertidur diatas kursi depan televisi. Ira menghampiri sang ibu mengecup keningnya, dan berkata

“ibu, pasti nungguin ira pulang ya. Maafin ira ya bu gak bilang dulu”. Ucap ira yang merasa bersalah karena tadi riksan terburu – buru menyuruhnya untuk pergi ke salon.

Ira melangkahkan kaki menuju kamar sang ibu membawakan bantal dan selimut. Diganjalkannya bantal di kepala sang ibu dan merebahkan selimut untuk menghangati tubuh ibunya yang mungkin kedinginan karena dinginnya malam, yang kebetulan akan turun hujan. Lalu ira pun bergegas kekamarnya membawa karpet, bantal, dan sarung ia akan menemani ibunya tidur, karena ira paling anti untuk membangun kan ibunya. Apalagi wajah si ibu yang terlihat kecapean sekali.

Ira pun melebarkan karpetnya, menaruh bantal dan mengenakan sarung, ia pun tertidur di sisi bawah ibunya. Hujanpun turun dengan derasnya di kesunyian malam, hawa dingin perlahan – lahan memasuki ruangan, namun ruangan itu terasa hangat. Hangat cinta yang mengusir dinginnya malam.

 

 

 

To be Continue...

Chapter 3

MEETS UR IDOL GOES to KOREA

SINOPSIS

Safira, gadis remaja yang baru berusia 17 tahun ini sangat tergila – gila pada aktor korea. Lee Suun Kee, aktor, penyanyi, model, sekaligus artis serba bisa inilah yang menghantarkan Safira untuk mengikuti kuis “MEETS UR IDOL GOES to KOREA” secara online di internet. Hanya 5 orang yang bisa memenangkan tiket untuk bertemu sang idola. Akankah Safira berhasil untuk memenangkan tiket dan bertemu sang Idola? Dan apa saja rintangan yang akan ia hadapi untuk mendapatkan tiket impiannya? Baca selengkapnya, dan temukan jawabannya.
Selamat membaca .....!!!!! ^_^

 

 

CHAPTER 1
Safira seorang gadis muda, pantang menyerah, rajin membantu ibunya, dan sedikit beruntung, ia sekarang duduk di bangku sekolah menengah kejuruan kelas 3 jurusan kecantikan di salah satu sekolah ternama karena mendapatkan beasisiwa.
Ibunya adalah seorang penjual sayuran keliling, ayahnya sudah 3 tahun terakhir ini tidak ada kabarnya. Ia pergi setelah menerima pekerjaan di pelayaran entah sebagai apa, namun hingga detik ini tak kunjung pulang.


Keseharian safira adalah sekolah, membantu ibunya untuk menambah uang belanja dengan cara berjualan kosmetik di sekolahnya. Lumayan sajalah untuk sekedar uang sakunya, karena melihat kondisi ekonomi dan kondisi ibunya yang sekarang mulai sakit – sakitan akibat sebulan yang lalu terjatuh dikamar mandi. Safira dan sang ibu menempati rumah peninggalan orangtua ibunya yang kondisinya jangan di tanya lagi. Tembok dengan cat memudar, langit – langit rumah yang sudah amburadul bukan main, dan apabila hujan tiba siap – siap saja ember, baskom, gayung hingga mangkuk bertebaran di sana – sini.


Namun safira tidak pernah menyesali apa yang Tuhan telah berikan kepadanya, ia selalu bersyukur apalagi mempunyai Ibu yang selalu setia menemaninya dalam suka dan duka. Saat Safira salalu mengalami bullying disekolahnya ia selalu menumpahkannya kepada sang ibu. Dengan sabar sang ibu selalu mendengar dan memberikan nasihat – nasihat agar selalu tabah dalam mengahadapi setiap ujian.


Sekarang adalah tahun ajaran baru diamana ia sudah memasuki tingakat akhir di sekolahnya. Kelas 3 adalah saat – saat tersibuk karena akan mengahadapi ujian akhir. Untuk lulus dari sekolah bukan hanya teori tetapi skill pun di butuhkan apalagi mengingat ini adalah sekolah kejuruan.Namun bukannya sibuk belajar dan mengulang pelajaran, yang ada safira saat ini tengah giat – giatnya pergi ke warnet dekat rumahnya. ya sudah dua minggu terakhir ini dia bolak – balik warnet setiap hari 2 jam seusai pulang sekolah dan 2 jam seusai shalat isya. Kenapa?


“kamu mau kemana?” ucap sang ibu yang tiba – tiba keluar dari kamar yang masih memakai mukena.


“eh ibu, mau ke warnet” safira memandang setengah terkaget.


“ke warnet? Apa ga bosen tiapa hari ke warnet? Ga siang ga malem.” Sang ibu menghampiri sembari melepaskan mukena yang masih dikenakannya.
Safira tersenyum dan berkata


“yah ibu, aku kan masih muda jadi wajar dong bu, kan refreshing”


“lah jaman ibu muda tuh ga ada warnet – warnetan. Kalau yang namanya refreshing masa tiap hari 2x sehari toh ndo.” Ucap sang ibu kemabali


“hehe... ibu...ibu. jelas aja ga ada, ibu kan idup nya di jaman dulu, klo ira jaman 2012 jadi bedalah.”


“ah, kamu ini. Ya sudah tapi pulangnya jangan kemaleman ndo.”


“siap ibu... ya uda ira pergi dulu ya, assalamualaikum.”


“walaikumsalam...”


Safira atau Ira pun beranjak keluar dari rumah menuju warnet depan gang rumahnya.


“eh ra baru nongol lu, kemana aja?” ucap si penjaga warnet namanya Bang Jonas itu sih nama panggilan di kampung sini. Kalau nama aslinya Junaedi aliyudin keren ga tuh hihihi...


“eh bang iya nih tadi di ceramahin dulu sama ibu.” Jawabku singkat padat dan jelas. Soalnya kalau jawabnya panjang – panjang jadi kepanjangan ngobrol nanti yang ada 2 jam bukan di pake warnet malan nemenin dia ngobrol. Boros kan waktu kebuang percuma, seboros mukanya bang Jonas hihihi...


Lalu Ira menghidupkan komputer di balik bilik kbu no 01 ini adalah tempat faporit tangkringannya, enatah kenapa tapi ia lebih nyaman berada di bilik itu, dan bang Jonas serta penjaga warnet yang lainnya sudah mengetahui ini. Maklum sekarang ia menjadi pelanggan tetap di wanet “SKY_NET”


Dengan sigap ia membuka situs WWW.IDOLSKOREA.COM dan di klik nya member LOG IN. Ya, karena dia sudah mendaftarkan namanya di situs ini sejak dua minggu lalu. Dan bahkan dengan susah payah untuk mengikuti kuis nya ia bahkan harus puasa jajan disekolah selama satu minggu dan bekerja sebagai jockey untuk bisa membeli tiket seharga $30 melalui kartu kredit. Nah, anak tukang sayur punya kartu kredit, kok bisa?


Ya gag lah ceritanya ira punya teman di sekolahnya yang kaya raya namanya Riksan dengan sedikit paksaan akhirnya Riksan mau berbagi dengan cara menukarkan uang rupiah ira dengan dolar dari kartu kredit Riksan. Alhasil Safira punya satu tiket peluang untuk memenangi kuis ini.
Memang sih sangat tipis bahkan tipis nya setipis tipis sehelai rambut, karena ia hanya memiliki satu number code tiket, bahkan member yang lain dengar – dengar dari forum sudah memiliki 10 tiket bahkan 100 tiket di kuis ini. Tapi ira tidak pantang menyera ia selalu membuka situs ini dan memainkan games yang ada di kuis ini untuk ditukarkan dengan tiket. 1000 points for 1 ticket. Nah, inilah alasannya ia selalu nangkring di warnet lumayanlah untuk menambahkan pundi – pundi pointnya yang sekarang sudah 566 points. Kalau saja sudah 1000 point ia akan mempunya peluang setidaknya dua tiket sudah ada ada di genggamannya.


Tak terasa waktupun sudah malam menunjukan pukul setengah sepuluh. Dilihatnya waktu penunjuk billing sudah ia pakai 1:59 menit. Waktunya ia pulang, lalu bergegas menshutdown komputer dan beranjak ke meja bang Jonas.


“yah, malah tidur. Bang,,, bang.... bang Jonas bangun ...” ucap safira sembari menggerak – gerakan telapak tangannya ke arah muka bang Jonas yang sedang nyenyak tertidur di kursu jaga sambil menitikan sebutir berlian dari mulutnya....ih jijk banget ya...


Sudah di goyang – goyangkannya tubuh bang Jonas tapi masih saja teridur. Tak kehabisan akal ia pun mengambil headset di meja lalu menempelkannya di telinga bang Jonas. Dan di play nya lagu Iwa Peyek sekeras – kerasnya. Alhasil bang Jonas terjungkir dari kursi tidurnya lalu terbentur meja billing jedug keras bukan main. Safira yang melihat tak henti – hentinya tertawa.


“aduh ra,,, lu bangunin yang enak dikit napa, cium kek biar gua bangun ini malah nyetel lagu iwak peyek kenceng – kenceng. Mana sakit lagi nih kejedot.” Celoteh bang Jonas yang terlihat kesakitan.


“idih cium? Ngimpi...... nih bayar billing, goceng ya” ucap nya mengeluarkan uang lima ribu rupiah dari saku celana jeans selututnya.


“yah di mimpi juga kagak napa – napa dah... hehe daripada kagak sama sekali hihihi” ucap bang Jonas bercanda dan sedikit menggoda.


“idih ngarep... udah ah bang besok sekolah ni makasih ya... yuk...” ucap safira berpamitan


“ok, makasih ya ra” ucap bang Jonas kembali. Ira pun melangkah keluar dan menuju pulang ke rumahnya.


*****


Teng...teng...teng...teng...


Bel tanda istirahat pun berdering. Saatnya bagi siswa – siswi untuk menikmati waktu istirahat setelah dari pagi hingga siang hari berkutat dengan mata pelajaran dan teori – teori. Di sekolah tempat safira menimba ilmu muridnya kurang lebih ada 1000. Dengan jurusan yang berbeda – beda, mulai dari jurusan, otomotif, komunikasi, broadcast, perhotelan, dan kecantikan seperti yang diambil oleh ira.


Ira mempunya sahabat setianya dari SMP namanya Ranti ia adalah anak seorang guru di SMP nya dulu, saking BFF nya Ranti tidak mau pisah dengan ira dan ia memutuskan untuk sekolah disatu sekolah yang sama dengan jurusan yang sama pula, merekapun satu bangku, hehe benar – benar setia ya...


“ra, temenin ke kantin yu”. Ucap Ranti menoleh pada Ira yang sedang membereskan buku – bukunya ke dalam tas.


“mmm,,,” terdiam sejenak


Ranti pun tersenyum lalu menarik tangan ira sedikit memaksa karena ia tau karakter sahabatnya ini, jika ira terdiam berarti dia sedang tidak ada jatah untuk jajan, kalau uang ira pasti punya namun itu adalah modal dari kosmetiknya.


Sesampainya di kantin...
“bentar ya... aku mau pesen dulu” senyum ranti meninggalkan ira menuju counter makanan di kantin.


Jangan tanya kantin sekolah ini gak kalah sama yang ada di mol – mol semacam food court gitu, dari jajanan ringan sampai makanan berat ada. Dari yang harga seribu perak sampai lima puluh ribu juga ada. Maklum sekolah ini 70% adalalah khusus orang – orang berada, lho kok bisa bukan biasanya SMK untuk anak yang habis lulus langsung kerja ya...??? berarti kan anak – anak kalangan mengah ke bawah.


Eitsss, jangan salah SMK JAYA BANGSA adalah SMK dimana anak didiknya dibekali dasar – dasar ilmu yang nantinya akan menghantarkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, apabila sudah lulus dari sini jika akan study kembali maka di semester satu dan dua kalian tinggal santai – santai saja karena ilmu dasarnya sudah ada. Dan apabila tidak maka bisa dijadikan modal awal untuk bekerja di perusahaan – perusahaan yang bekerja sama dengan sekolah ini. Atau yang ingin membuka usaha akan diberi modal Cuma – Cuma oleh pihak sekolah, gimana tuh enak ga??? Kalau aja ada ya sekolah macam ini.


“ra mau mesen makanan ato minuman?” tanya ranti dari meja counter


Ira memandang lalu menggelengkan kepalanya bertanda saat ini dia benar – benar tidak ada jatah, puasa lagi dan lagi.


Ranti pun menuju ke tempat dimana ira duduk
“puasa lagi.” Ucap ranti memandang dan menyunggingkan mulut


Angguk Safira sambil memanyunkan mulutnya.


Lalu ranti pun tersenyum
“jangan nyiksa deh, oh ya ini uang yang kemarin ambil lotion sama pelembab.” Ucapnya dan mengambil lembaran uang pecahan lima puluh ribu rupiah 2 lembar.


Ira pun melirik lalu mengambil uang yang disodorkan ranti.
“tapi gue ga ada kembalian. Nanti aja deh bayarnya.”


“ih ribet banget deh, ini udah ambil aja ra ga usah di kembaliin ok.” Ucap ranti. Ia tau jika ira tidak suka dikasihani maka dari itu ranti pun memberinya dengan embel –embel sebagai pembayaran dari kosmetik yang diambilnya kemarin. Walaupun sebenarnya masih ada lebih tigapuluh ribu rupiah.


“ini de makanannya.” Pelayan datang membawakan nampan berisi steak dengan hot plat dan juice melon.


“ok, makasih. Oh ya, Mas pesen yang kaya gini satu lagi ya sama jus alpukatnya satu.” Ucap ranti


Dengan heran ira bertanya “ga salah? Mesen lagi?”


“haha yaelah, kenapa emang?” ucap ranti tertawa


“kagak” ucap ira melemas lalu memangku dagu nya di kedua telapak tangannya.


“dorrrrr”
Ucap seseorang di balik keduanya


Ranti dan ira pun terkejut


“ya ampun kaget tau” ucap ranti tersedak makanannya


“yaelah ni monyet satu ngagetin ja.” Ucap ira sedikit melotot kearah Riksan


“ye... kalo monyet nya kaya gue lo juga kelojotan kali hehe. Eh ada ranti sory – sory ya... keselek ya nih minum dulu.” Ucap nya tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


Riksan adalah teman satu sekolah beda jurusan di sekolah ira. Rikasan mengambil jurusan Broadcast. Anak dari seorang manajer perusahaan Korea ini termasuk cowok paling imut tapi rada tengil dan gokil makanya bisa berteman dengan ira yang kepribadiannya hampir mirip bedany kalau ira grasak – grusuk dan kalau Riksan stay cool jika berhadapan dengan gadis kaya Ranti.


“ra gimana udah dapet tiketnya belom?” tanya Riksan memulai pembicaraan seputar mimpi Ira untuk berangkat ke Korea.


“udahlah kan yang kemaren gue tukerin ke lo seminggu yang lalu.”


“terus menang?” tanyanya kembali


“ya belom lah pengumumannya aja tiga bulan depan.”


“oh, masih lama toh”


Ira pun mengangguk


“ra kemaren di TV ada berita Lee Suun Kee lho.” Ucap ranti mengikuti obrolan


“berita yang mana? Kemaren juga gue lihat katanya dia mau tour di asia tenggara untuk promosi situs kuisnya.” Ucap ira menambahkan


“wah lo bisa liat si Lee sungging dong ra” ucap riksan dengan memelesetkan nama lee suun kee menjadi lee sungging hahaha....


“Lee Suun Kee woi bukan Lee sungging.” Ucap ira dengan nada kesal


“ya maap – maap deh becanda kali. Nah gimana tuh lo pasti liat ka ra?” tanya Riksan


“yah jangan tanya, pasti ga lah, darimana gue buat beli tiket, buat jajan aja kadang jajan kadang gag kan lo tau sendiri.” Ucap ira dengan datar


Ranti dan ira pun terhenyak mendengarkan ucapan dari sahabatnya, lalu terdiam...


*****


Selepas pulang sekolah ira menuju kamar lalu berganti pakaian kaos dan celana. Ia pun mengambil topi sebagai pembungkus rambut panjangnya yang digulung kedalam topi. Dengan sigap ia menuju keluar kamar dan menghambur keluar, kebetulan ibunya sdang tidak ada dirumah mungkin masih berkeliling menjual sayuran. Ia pun berjalan dari rumahnya menuju gang depan jalan raya dan menyetop angkot untuk mengahantarkannya kejalan tempat dimana ia menjadi jockey. Lumayanlah bisa membantu kondisi keuangannya.


Ira hanya berdiri di pinggiran jalan untuk menunggu mobil – mobil dimana akan membutuhkan jasanya itu. Banyak juga gadis – gadis seusianya yang menjajakan jasa sebagai jockey sepertinya. Tidak ada rasa malu, bagi ira rasa malu itu adalah menyusahkan ibunya dan mengandalkan ibunya sebagai kepala keluarga dan tulang punggung keluarga. Ira mau dan tidak malu melakukan apa saja yang bisa menghasilkan uang dan halal akan ia kerjakan.
Tidak berselang lama mobilpun berhenti tepat dihadapannya. Lalu sang pengemudi membukakan kaca, bertanda ira sedang dibutuhkan. Lalu ira pun masuk.


Hanya dengan sekali hantar ia bisa di berikan upah lima ribu rupiah, apabila ada yang berbaik hati bisa memberinya lebih bahkan lima puluh ribu rupiah untuk sekali hantar pernah ia kantongi.
Lumayan untuk hari ini ia mendapatkan upah tiga puluh ribu rupiah untuk ia tabung sekiranya ada keperluan mendadak. Jatah untuk ia ke warnet hari ini ada dari ranti lumayanlah jadi tidak perlu mengeluarkan uang. Lalu ira pun pulang kerumah.


Setibanya dirumah


“assalamualaikum.” Ira membuka pintu


“waalaikum salam. Baru pulang toh” ucap ibu nya yang sedang mencuci piring di dapur.


“iya bu, tadi ke jalan dulu lumayanlah dapet uang untuk ibu tabung.” Ucap ira menghampiri ibunya


“kamu ngejockey ya ndo” ibu nya pun menatap dengan binar kagum dan haru


Irapun mengangguk


Ibunya terdiam dan menggigitkan bibirnya menahan butiran air mata namun tak terbendung


“lho ibu kenapa nangis? Ira ikhlas ko bu, ira yang mau, ira ga mau nyusahin ibu” ira pun memeluk tubuh kecil ibunya mendekapnya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.


Ibu ira bercucuran air mata, tidak sanggup berkata – kata


“ira sayang sama ibu, ira ga mau liat ibu kecapean, ibu cukup jualan sayuran aja, ga usah ambil cucian di tetangga, atau kerja yang berat – berat, ira ga rela liatnya bu.” Ucap ira mendekap ibunya lebih erat.


Dan beberapa saat....


Lalu merekapun melepaskan dekapan.


“ga kok ndo ibu ga pernah ngerasa capek, apa yang ibu lakukan semata – mata untuk kamu, untuk kehidupan kita.” Ucap sang ibu terbata – bata
Mendengar itu ira mulai tak kuasa akhirnya air matanya pun jatuh.


“tadi ibu habis dari mana??? Ambil cucian lagi kan???”


Ibunya menganggukan kepala


“ya allah ibu.... ibu, ira pinta mulai besok ibu jangan lagi ambil cucian di tetangga ya, ira yang kerja, mulai besok ira akan ngejockey lebih lama lagi biar dapet uangnya lebih banyak yah bu,,, ira sayang sama ibu,,, ira takut sakit ibu kambuh,,, ira gag mau, ira gag rela,,,” ucap ira menangis di dekapan ibunya...


Hening....


“ya sudah, ibu ga akan ambil cucian ke tetangga lagi.” Ucap sang ibu lalu mengusap air mata dari wajah anak semata wayangnya ini.


“janji ya bu”


“iya ibu janji”


“pokoknya ira gag mau lihat ibu ambil cucian lagi”


Ibunya mengangguk dan tersenyum haru melihat anaknya yang sudah dewasa walau usianya masih belia, beruntung memiliki anak seperti Safira Lara Prihatini. itu adalah nama lengkap yang diberikan ibunya yang kelak ia akan memiliki sifat dari arti namanya.


“ya sudah kamu makan dulu sana, kamu pasti belum makan kan.”


“iya nih laper... hehehe” ira menunjukan muka imut nan manjany, akhirnya mereka pun tertawa.


 

 

TO BE CONTINUE......

CHAPTER 2

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Teknisi Komputer Online - All Rights Reserved
Template Modify by Yusup Abdurakhman
Proudly powered by Blogger